Hari Anak Nasional: Suara Anak yang Sering Terabaikan

Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk mengingat pentingnya melindungi, mendidik, dan memenuhi hak-hak anak. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang dewasa: hak anak untuk didengar.

Tanpa disadari, banyak anak tumbuh dalam lingkungan di mana pendapat mereka dianggap tidak penting. Ketika mereka berbicara, respons yang diterima sering kali berupa:

“Kamu masih kecil, belum ngerti.”
 “Nanti kalau sudah besar baru paham.”
 “Ikut aja kata orang tua.”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa. Namun jika terus-menerus terjadi, anak bisa belajar satu hal yang berbahaya: bahwa suaranya tidak penting.

Anak Bukan Orang Dewasa Mini, Tapi Mereka Tetap Punya Pikiran

Memang benar bahwa anak belum memiliki pengalaman hidup sebanyak orang dewasa. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki pemikiran, perasaan, atau sudut pandang yang berharga.

Anak mengamati dunia setiap hari. Mereka memiliki pendapat tentang sekolah, pertemanan, keluarga, bahkan tentang diri mereka sendiri. Ketika kesempatan untuk mengungkapkan pendapat selalu dipotong atau diremehkan, anak perlahan kehilangan keberanian untuk berbicara.

Padahal kemampuan menyampaikan pikiran adalah salah satu fondasi penting dalam perkembangan diri.

Dampak Ketika Anak Tidak Didengar

Saat suara anak terus diabaikan, dampaknya tidak hanya terlihat saat mereka masih kecil. Beberapa efek yang bisa muncul antara lain:

1. Kurang Percaya Diri

Anak mulai merasa bahwa apa yang mereka pikirkan tidak cukup penting untuk didengarkan.

2. Takut Mengungkapkan Pendapat

Mereka menjadi ragu berbicara di kelas, dalam pertemanan, bahkan saat dewasa nanti.

3. Sulit Mengambil Keputusan

Karena terbiasa selalu diarahkan, anak tidak terlatih mempertimbangkan pilihan dan menyampaikan keinginannya.

4. Rentan Mengikuti Tekanan Teman Sebaya

Anak yang tidak terbiasa menyuarakan pendapat lebih mudah ikut-ikutan karena takut berbeda.

Yang paling disayangkan, banyak orang tua baru menyadari masalah ini ketika anak memasuki usia remaja dan menjadi tertutup.

2150121012

Mendengar Tidak Berarti Selalu Menyetujui

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap bahwa mendengarkan anak berarti harus selalu mengikuti keinginannya.

Padahal tidak demikian.

Mendengarkan berarti memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pikirannya dan merasa dihargai. Orang tua tetap boleh memberikan batasan atau keputusan yang berbeda.

Contohnya:

“Mama mengerti kenapa kamu ingin pulang lebih malam. Terima kasih sudah menjelaskan. Tapi untuk saat ini, waktunya tetap sampai jam 8 malam ya.”

Dengan cara ini, anak belajar bahwa pendapatnya didengar meskipun tidak selalu dikabulkan.

Cara Memberi Ruang pada Suara Anak

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

1. Beri Kesempatan Anak Menyelesaikan Ucapannya

Jangan langsung memotong atau menyimpulkan sebelum mereka selesai berbicara.

2. Ajukan Pertanyaan Terbuka

Misalnya:

“Menurut kamu bagaimana?”
 “Kalau kamu jadi guru, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan seperti ini melatih kemampuan berpikir dan berpendapat.

3. Hindari Meremehkan

Kalimat seperti:

“Ah, itu masalah kecil.”

bisa membuat anak merasa tidak dipahami.

4. Libatkan Anak dalam Keputusan Sederhana

Mulai dari memilih aktivitas akhir pekan hingga menentukan aturan belajar di rumah.

Penutup

Hari Anak Nasional bukan hanya tentang memberikan hadiah atau perayaan khusus. Ini juga menjadi pengingat bahwa anak memiliki hak untuk didengar, dihargai, dan dilibatkan sesuai usianya.

Ketika orang dewasa mau mendengarkan, anak belajar bahwa pendapatnya berharga. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani menyampaikan ide, dan mampu berpikir mandiri.

Karena pada akhirnya, suara anak yang didengar hari ini akan membantu membentuk generasi yang berani bersuara dan memberi kontribusi positif di masa depan. Jangan sampai mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa pendapatnya tidak penting. Sebab setiap anak memiliki suara, dan suara itu layak untuk didengar.

Jika Anda adalah orang tua, pengasuh maupun profesional di bidang pendidikan serta membutuhkan arahan untuk membimbing Anda dalam membimbing anak-anak, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor  profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda menavigasi tantangan Anda.

Image Source :

Image by magnific

Image by jcomp on Magnific

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *