Pernah merasa suntuk, lalu membuka aplikasi belanja, memasukkan beberapa barang ke keranjang, checkout, dan tiba-tiba mood terasa lebih baik? Rasanya seperti memberi hadiah kepada diri sendiri setelah menjalani hari yang melelahkan. Apalagi kalau berhasil mendapatkan barang saat flash sale—senangnya bisa berkali-kali lipat!
Masalahnya, rasa senang tersebut sering tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, barang datang, dibuka sebentar, lalu diletakkan begitu saja. Lama-lama kamar dan rumah dipenuhi barang yang sebenarnya jarang digunakan.
Akhirnya, niat awal belanja supaya happy malah menghasilkan masalah baru: rumah cluttered, pengeluaran membengkak, dan pikiran semakin stres.
Kenapa Belanja Bisa Bikin Happy?
Saat kita menemukan dan membeli sesuatu yang diinginkan, otak dapat memberikan respons yang berkaitan dengan sistem reward, termasuk aktivitas dopamin. Menariknya, rasa menyenangkan tersebut bahkan bisa muncul sejak proses mencari barang, menunggu diskon, hingga menantikan paket datang.
Inilah salah satu alasan scrolling marketplace terasa menyenangkan ketika sedang bosan atau stres.
Namun, rasa puas tersebut biasanya bersifat sementara. Setelah barang menjadi milik kita, sensasi excitement perlahan berkurang. Kalau shopping sudah menjadi cara utama untuk memperbaiki mood, kita pun terdorong mencari barang berikutnya untuk mendapatkan sensasi menyenangkan yang sama.
Muncullah siklus: stres → belanja → senang sebentar → menyesal → stres lagi → belanja lagi.
Barang Menumpuk Juga Bisa Membuat Stres
Masalahnya bukan hanya saldo rekening yang berkurang. Barang yang terus bertambah bisa menciptakan visual clutter di rumah.
Meja penuh barang, lemari tidak bisa ditutup, atau kamar yang selalu terlihat berantakan dapat membuat kita merasa kewalahan. Setiap benda bahkan membawa “pekerjaan” tambahan: harus disimpan, dibersihkan, dirapikan, atau suatu hari dibuang.
Belum lagi muncul rasa bersalah ketika menemukan barang yang ternyata hanya digunakan satu kali.
Lalu, bagaimana memutus siklus tersebut?

Mulai Praktik Mindful Shopping
Mindful shopping bukan berarti berhenti belanja sama sekali. Prinsipnya adalah membeli dengan kesadaran, bukan karena dorongan emosi sesaat.
Sebelum checkout, coba tanyakan:
“Aku benar-benar membutuhkan barang ini atau sedang mencari rasa senang?”
Kemudian gunakan aturan menunggu. Untuk barang yang tidak mendesak, masukkan ke wishlist dan tunggu 24–72 jam sebelum membeli. Setelah beberapa hari, sering kali keinginan tersebut ternyata sudah menghilang.
Hindari juga membuka marketplace ketika sedang sedih, marah, atau stres. Sama seperti emotional eating, ada pula emotional shopping. Kita membeli bukan karena membutuhkan barangnya, tetapi karena sedang berusaha mengatur emosi.
Decluttering: Lepaskan yang Tidak Lagi Dibutuhkan
Kalau barang sudah terlanjur menumpuk, tidak perlu langsung membuang setengah isi rumah. Mulailah dari area kecil, misalnya satu laci atau satu bagian lemari.
Bagi barang menjadi beberapa kategori: masih digunakan, bisa dijual, bisa didonasikan, dan sudah waktunya dibuang.
Gunakan pertanyaan sederhana:
“Apakah barang ini benar-benar berguna atau memberikan nilai dalam hidupku sekarang?”
Decluttering bukan kompetisi tentang siapa yang punya barang paling sedikit. Tujuannya menciptakan ruang yang lebih nyaman dan mengurangi beban mental akibat terlalu banyak benda.
Cari Sumber Bahagia yang Lebih Bertahan Lama
Kalau setiap stres selalu berujung checkout, mungkin kita perlu mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan emosional tersebut.
Coba berjalan kaki, olahraga, bertemu teman, memasak, menikmati hobi, bermain dengan keluarga, atau sekadar tidur lebih cukup. Aktivitas sederhana bisa memberikan kepuasan tanpa meninggalkan tagihan dan tumpukan paket.
Belanja tentu boleh. Memberikan hadiah kepada diri sendiri juga tidak salah. Namun, jangan sampai shopping menjadi satu-satunya cara untuk merasa bahagia.
Karena terkadang yang kita butuhkan sebenarnya bukan barang baru, melainkan istirahat, koneksi, pengalaman, atau ruang hidup yang lebih tenang. Sebelum menekan tombol checkout, coba tanyakan sekali lagi: “Aku membutuhkan barang ini, atau sebenarnya sedang membutuhkan sesuatu yang lain?”
Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing Anda memelihara kesehatan mental serta menjalani hidup dengan positif, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling untuk mendukung Anda.
Image Source :