Belakangan ini, istilah “kabur aja dulu” menjadi tren di media sosial. Ungkapan ini sering digunakan sebagai bentuk keinginan untuk menjauh dari tekanan hidup, pekerjaan, atau masalah yang terasa terlalu berat. Ada yang mengartikannya sebagai mencari suasana baru, tetapi tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai simbol menyerah dari setiap kesulitan.
Lalu, bagaimana jika pola pikir seperti ini mulai memengaruhi anak-anak dan remaja? Apakah mereka harus selalu menghadapi semua masalah? Atau justru boleh “kabur” sesekali?
Jawabannya bukan hitam atau putih. Yang perlu diajarkan kepada anak bukan sekadar bertahan atau menghindar, melainkan kemampuan membedakan kapan harus menghadapi dan kapan harus mengambil jarak dengan bijaksana.
Tidak Semua Masalah Harus Dilawan Saat Itu Juga
Ada anggapan bahwa anak yang kuat adalah anak yang selalu berani menghadapi semua tantangan. Padahal, dalam kehidupan nyata, ada situasi di mana mengambil jeda justru merupakan keputusan yang paling sehat.
Misalnya, ketika emosi sedang memuncak, memaksakan diri untuk menyelesaikan konflik seringkali justru memperburuk keadaan. Mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara bukanlah bentuk pengecut, tetapi bagian dari pengendalian diri.
Sebaliknya, jika setiap kali menghadapi kesulitan anak langsung memilih menghindar tanpa pernah mencoba menyelesaikannya, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membangun ketangguhan.
Bedakan “Kabur” dan “Mengambil Jeda”
Inilah pelajaran penting yang perlu diajarkan kepada anak.
Mengambil jeda berarti berhenti sejenak agar bisa berpikir lebih jernih, lalu kembali menghadapi masalah.
Sedangkan kabur berarti meninggalkan masalah tanpa niat untuk menyelesaikannya.
Contohnya:
- Anak yang gagal dalam lomba lalu beristirahat sehari sebelum berlatih lagi, itu mengambil jeda.
- Anak yang berhenti mencoba karena takut gagal lagi, itu bentuk menghindar.
Perbedaannya terletak pada tujuan akhirnya.

Kapan Anak Perlu Menghadapi?
Ajarkan anak untuk berani menghadapi situasi yang memang bisa mereka pengaruhi.
Misalnya:
- Mengakui kesalahan setelah melakukan kekeliruan.
- Belajar lebih giat setelah nilai ujian kurang memuaskan.
- Meminta maaf setelah menyakiti teman.
- Berlatih lagi setelah kalah dalam pertandingan.
Situasi-situasi ini memang tidak nyaman, tetapi justru menjadi tempat terbaik untuk melatih resilience, yaitu kemampuan bangkit setelah mengalami kegagalan atau kesulitan.
Resilience bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu mau mencoba berdiri kembali.
Kapan Mengambil Jarak Justru Bijaksana?
Di sisi lain, anak juga perlu tahu bahwa tidak semua situasi harus dipaksakan.
Misalnya:
- Menjauh dari pertemanan yang penuh perundungan.
- Menghindari perdebatan ketika emosi sedang tinggi.
- Beristirahat ketika tubuh dan pikiran sudah sangat lelah.
- Meminta bantuan ketika masalah terasa terlalu berat.
Mengambil jarak dari situasi yang tidak sehat bukan berarti lemah. Justru itu menunjukkan bahwa anak mampu mengenali batas dirinya.
Peran Orang Tua Sangat Penting
Anak belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika orang tua selalu menghindari masalah, anak akan meniru. Sebaliknya, jika orang tua selalu memaksakan diri tanpa pernah beristirahat, anak juga belajar bahwa kelelahan harus dipendam.
Yang dibutuhkan adalah contoh yang seimbang. Tunjukkan kepada anak bahwa:
- masalah perlu diselesaikan,
- emosi perlu dikelola,
- dan meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Saat anak menghadapi tantangan, jangan langsung menyelesaikan semuanya untuk mereka. Dampingi mereka berpikir:
“Menurutmu, masalah ini perlu dihadapi sekarang atau lebih baik tenang dulu sebelum mencari solusi?”
Pertanyaan seperti ini melatih kemampuan mengambil keputusan, bukan sekadar bergantung pada orang tua.
Penutup
Hidup selalu menghadirkan tantangan. Tidak mungkin kita mengajarkan anak untuk lari dari semua masalah, tetapi juga tidak bijak jika mereka dipaksa menghadapi semuanya sendirian.
Bekal terbaik yang bisa diberikan adalah kemampuan membedakan kapan harus tetap berdiri menghadapi badai, dan kapan perlu berteduh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Karena pada akhirnya, anak yang tangguh bukanlah anak yang tidak pernah ingin “kabur”. Anak yang tangguh adalah mereka yang tahu kapan harus beristirahat, lalu memiliki keberanian untuk kembali melangkah menghadapi kehidupan.
Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing anak-anak Anda dalam menghadapi tantangan, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda dan anak Anda.
Image Source :