Gila Apresiasi? Mending Jadi Realistis aja

Di era media sosial seperti sekarang, apresiasi seringkali diukur dari angka: berapa banyak likes, views, followers, atau komentar yang didapat. Semakin tinggi angkanya, semakin merasa “berharga”. Tidak heran, banyak remaja dan young adults rela melakukan apa saja demi perhatian digital, mulai dari membuat konten berlebihan, mengikuti tren berbahaya, sampai memaksakan gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu mereka jalani.

Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh budaya influencer atau influencer culture, di mana validasi publik menjadi seperti “mata uang sosial”. Masalahnya, ketika hidup terlalu bergantung pada apresiasi orang lain, seseorang bisa kehilangan arah dan identitas dirinya sendiri.

Kenapa Likes dan Views Jadi Begitu Penting?

Media sosial dirancang untuk memberi sensasi penghargaan instan. Saat mendapat notifikasi likes atau komentar, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang membuat kita merasa senang. Lama-lama, otak terbiasa mencari “rasa senang” itu terus-menerus.

Akibatnya, banyak orang mulai:

  • Mengukur nilai dirinya dari engagement
  • Takut dianggap tidak menarik jika postingannya sepi
  • Membandingkan hidupnya dengan orang lain
  • Melakukan hal ekstrim demi viral

Padahal, angka di media sosial bukan ukuran kualitas seseorang.

Influencer Culture dan Tekanan untuk “Selalu Menarik”

Tidak semua influencer memberi dampak buruk. Banyak juga yang edukatif dan inspiratif. Namun, budaya influencer saat ini sering menampilkan standar hidup yang tidak realistis:

  • Harus selalu produktif
  • Harus tampil menarik setiap saat
  • Harus punya gaya hidup estetik
  • Harus terlihat sukses di usia muda

Remaja dan dewasa muda yang sedang mencari jati diri jadi mudah merasa tertinggal. Mereka mulai berpikir:

“Kalau aku nggak viral, berarti aku nggak penting.”

Dari sini muncul kebutuhan berlebihan untuk terus mencari perhatian dan apresiasi eksternal.

2149160196

Bahaya Jika Terlalu Haus Validasi

Ketika hidup hanya berfokus pada apresiasi orang lain, ada beberapa risiko yang bisa muncul:

  • Kehilangan jati diri
  • Kecemasan berlebihan saat tidak mendapat perhatian
  • Burnout karena terus mengejar engagement
  • Sulit menikmati hidup tanpa diposting
  • Mudah terpengaruh tren toxic demi views

Yang paling berbahaya, seseorang bisa mulai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dirinya sendiri hanya demi “ramai”.

Jadi Realistis Itu Penting

Realistis bukan berarti pesimis atau tidak punya mimpi. Realistis artinya memahami bahwa hidup nyata tidak selalu seperti highlight di media sosial.

Tidak semua momen harus diposting. Tidak semua pencapaian harus divalidasi publik. Dan tidak semua orang harus menjadi influencer untuk merasa berharga.

Belajar realistis berarti:

  • Menyadari bahwa media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan
  • Memiliki tujuan hidup di luar angka engagement
  • Fokus membangun skill dan karakter, bukan sekadar citra
  • Menerima bahwa tidak semua orang akan menyukai kita

Apresiasi Itu Boleh, Ketergantungan Jangan

Tidak salah merasa senang saat karya kita diapresiasi. Itu manusiawi. Tapi yang perlu dijaga adalah jangan sampai apresiasi menjadi sumber utama harga diri.

Orang yang sehat secara mental tetap bisa merasa bernilai meski postingannya sepi. Karena ia tahu:

“Nilai diriku lebih besar daripada angka di layar.”

Penutup

Di tengah budaya sosial media yang makin kompetitif, penting untuk tetap berpijak pada realita. Likes dan views bisa datang dan pergi, tapi karakter, kemampuan, dan kesehatan mental adalah hal yang jauh lebih penting untuk dijaga.

Apa yang dilihat di media sosial belum tentu benar atau keseluruhan kenyataan, jadi membandingkan diri dengan orang-orang di media sosial yang memiliki likes banyak itu tidak realistis dan kita perlu menyadari bahwa belum tentu mereka sebahagia yang terlihat di halaman media sosial mereka.

Jadi, daripada sibuk mengejar validasi digital, lebih baik fokus membangun diri di dunia nyata. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling viral, tapi siapa yang tetap punya arah dan jati diri di tengah kebisingan dunia maya.

Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing Anda memelihara kesehatan mental  serta membantu menavigasi hidup di era media sosial, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor  profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda menavigasi tantangan Anda dan keluarga.

Image Source :

Image by freepik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *