Sumpah Pemuda: Sudahkah Anak Berani Punya Suara?

Setiap tanggal 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kita mengenalnya sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah bangsa, ketika para pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan tekad untuk bersatu sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Namun, ada nilai lain dari Sumpah Pemuda yang juga relevan untuk kita ajarkan kepada anak-anak hari ini, yaitu keberanian untuk memiliki dan menyampaikan suara.

Para pemuda pada 1928 berani menyampaikan gagasan mengenai masa depan yang mereka yakini. Dalam konteks kehidupan anak saat ini, keberanian tersebut dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: berani mengatakan apa yang dipikirkan, mampu berbeda pendapat dengan sopan, dan tetap menghargai orang lain.

Anak yang Baik Bukan Berarti Harus Selalu Menurut

Sebagai orang tua, tentu menyenangkan ketika anak mudah diarahkan. Kita meminta mereka belajar, mereka belajar. Kita menentukan sesuatu, mereka menjawab, “Iya.”

Namun, tanpa disadari, kita terkadang terlalu menekankan kepatuhan hingga anak belajar bahwa berbeda pendapat dengan orang dewasa adalah sesuatu yang salah.

Ketika anak mengatakan, “Aku tidak setuju,” respons pertama kita mungkin, “Jangan membantah orang tua!”

Padahal, ada perbedaan antara membantah dengan tidak sopan dan menyampaikan pendapat yang berbeda.

Anak yang berani mengatakan, “Aku kurang suka karena…” sebenarnya sedang belajar mengenali pemikirannya sendiri dan mengkomunikasikannya kepada orang lain. Kemampuan ini akan semakin penting ketika ia tumbuh dewasa.

Ajarkan Cara Berbeda Pendapat

Memberikan anak ruang untuk bersuara bukan berarti semua keinginannya harus dituruti.

Misalnya, anak ingin bermain sementara orang tua meminta waktunya belajar. Anak boleh mengatakan bahwa ia tidak setuju. Orang tua dapat mendengarkan alasannya, tetapi keputusan akhir tetap dapat berupa, “Ayah mengerti kamu masih ingin bermain, tetapi sekarang waktunya belajar.”

Dengan demikian, anak mendapatkan pesan penting: pendapatnya boleh berbeda dan tetap didengarkan, tetapi tidak setiap pendapat harus menjadi keputusan akhir.

Orang tua juga dapat mengajarkan cara menyampaikan ketidaksetujuan dengan baik. Hindari mengejek, membentak, menyerang pribadi, atau memaksakan pendapat.

Biasakan anak menggunakan alasan: “Aku tidak setuju karena…” atau “Menurutku akan lebih baik kalau….”

3232

Keberanian Bersuara Juga Melindungi Anak

Kemampuan menyampaikan pendapat bukan hanya penting untuk membangun kepercayaan diri. Dalam situasi tertentu, kemampuan tersebut juga dapat membantu anak melindungi dirinya.

Anak perlu mengetahui bahwa ia boleh mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman, diperlakukan tidak baik, dipaksa melakukan sesuatu, atau melihat tindakan yang menurutnya salah.

Jika sejak kecil anak selalu diminta diam dan menurut tanpa boleh mempertanyakan orang dewasa, ia mungkin kesulitan mengungkapkan keberatan ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Karena itu, rumah sebaiknya menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar bahwa suaranya layak didengar.

Menghargai Suara Orang Lain Sama Pentingnya

Namun, keberanian bersuara perlu berjalan bersama kemampuan mendengarkan.

Anak perlu memahami bahwa dirinya berhak memiliki pendapat, tetapi orang lain juga memiliki hak yang sama. Teman dapat memiliki pilihan berbeda. Saudara dapat menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Bahkan ayah dan ibu pun bisa melihat sebuah persoalan dari sudut pandang berbeda.

Inilah kesempatan untuk mengajarkan bahwa perbedaan tidak selalu harus menghasilkan pertengkaran.

Kita bisa tidak setuju tanpa merendahkan. Kita bisa mempertahankan pendapat tanpa harus membuat orang lain merasa kecil.

Memaknai Sumpah Pemuda dari Rumah

Semangat Sumpah Pemuda tidak harus berhenti pada menghafalkan isi ikrar atau mengikuti upacara setiap 28 Oktober.

Kita juga dapat menghidupkan semangat tersebut dengan membesarkan generasi muda yang berani berpikir, berani berbicara, dan berani mempertahankan sesuatu yang diyakininya, sekaligus memiliki empati dan penghargaan terhadap perbedaan.

Mulailah dari rumah. Dengarkan ketika anak berbicara. Tanyakan pendapatnya. Biarkan ia sesekali tidak setuju. Ajarkan bagaimana menyampaikan alasan dengan baik dan bagaimana mendengarkan pandangan orang lain.

Sebab mungkin salah satu bentuk pendidikan nasionalisme yang dibutuhkan generasi berikutnya bukan hanya mengajarkan anak untuk mencintai Indonesia, tetapi juga membesarkan anak yang percaya bahwa suaranya dapat ikut membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing anak Anda agar berani untuk memiliki suara, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda dan anak Anda.

Image Source :

Image by 8photo on Magnific

Image by katemangostar on Magnific

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *