Makin Dewasa Makin Rentan Kena Emptiness Syndrome

Semakin bertambah usia, hidup sering kali terlihat “baik-baik saja” dari luar. Pekerjaan ada, keluarga terbentuk, rutinitas berjalan, target demi target tercapai. Namun di balik semua itu, tidak sedikit orang dewasa yang justru merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan. Perasaan kosong, hampa, tidak bersemangat, seolah hidup berjalan otomatis tanpa makna. Inilah yang sering disebut sebagai emptiness syndrome.

Emptiness syndrome bukan sekadar rasa bosan biasa. Ia adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa kehilangan makna hidup, koneksi emosional, dan tujuan yang dulu memberi semangat. Ironisnya, kondisi ini justru sering muncul saat seseorang sudah “dewasa” dan dianggap telah mapan.

Kenapa Emptiness Justru Muncul Saat Dewasa?

Saat kecil dan remaja, hidup penuh dengan milestone yang jelas: naik kelas, lulus sekolah, masuk kuliah, mendapat pekerjaan. Semua terasa terstruktur. Namun setelah fase-fase besar itu terlewati, hidup mulai terasa datar. Rutinitas yang berulang, tuntutan tanggung jawab, dan minimnya ruang untuk refleksi diri membuat banyak orang kehilangan rasa “hidup”.

Selain itu, orang dewasa sering terbiasa menekan emosi. Sedih ditahan, kecewa disimpan, lelah dianggap wajar. Lama-kelamaan, emosi yang tidak diproses ini menumpuk dan berubah menjadi kehampaan. Bukan karena tidak punya apa-apa, tetapi karena tidak pernah benar-benar hadir dan merasakan apa yang dimiliki.

Tanda-Tanda Emptiness Syndrome

Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

  • Merasa hidup hambar meski secara objektif tidak ada masalah besar

  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai

  • Merasa “kosong” meski dikelilingi banyak orang

  • Mudah lelah secara emosional tanpa sebab jelas

  • Merasa tidak terhubung dengan diri sendiri

Sayangnya, karena tidak terlihat secara fisik, kondisi ini sering dianggap sepele. Banyak orang berkata, “Mungkin cuma capek,” padahal yang lelah bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa.

2149692359

Tekanan Sosial Membuat Kehampaan Makin Dalam

Di usia dewasa, standar hidup semakin berat. Harus sukses, harus stabil, harus bahagia, harus jadi contoh. Media sosial memperparah kondisi ini dengan menampilkan versi hidup orang lain yang terlihat lebih bahagia dan bermakna. Akibatnya, banyak orang dewasa merasa tertinggal, tidak cukup, dan kehilangan arah—meski sebenarnya mereka sudah berusaha sangat keras.

Perasaan emptiness sering muncul ketika hidup dijalani demi memenuhi ekspektasi orang lain, bukan berdasarkan nilai dan kebutuhan diri sendiri.

Apakah Emptiness Berbahaya?

Jika dibiarkan, emptiness syndrome dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi, kecemasan kronis, atau burnout. Kehampaan yang terus-menerus membuat seseorang kehilangan motivasi, menarik diri dari hubungan, bahkan mempertanyakan makna hidupnya sendiri.

Namun kabar baiknya, emptiness bukan akhir, melainkan sinyal. Sinyal bahwa ada kebutuhan emosional dan makna hidup yang belum terpenuhi.

Cara Menghadapi Emptiness Syndrome

  • Berani Mengakui Perasaan

    Mengakui bahwa diri sedang kosong bukan tanda lemah. Justru itu langkah awal untuk pulih.

  • Kembali Terhubung dengan Diri Sendiri

    Luangkan waktu untuk refleksi: apa yang benar-benar penting bagimu? Nilai apa yang ingin kamu hidupi, bukan sekadar kejar?

  • Bangun Koneksi yang Autentik

    Bukan banyak relasi, tapi relasi yang aman secara emosional. Tempat di mana kamu bisa jujur tanpa harus berpura-pura kuat.

  • Cari Makna, Bukan Sekadar Sibuk

    Kesibukan sering dijadikan pelarian dari rasa kosong. Padahal, yang dibutuhkan adalah makna, bukan jadwal padat.

  • Pertimbangkan Bantuan Profesional

    Konseling atau terapi bukan hanya untuk orang “bermasalah”, tetapi untuk siapa pun yang ingin memahami dirinya lebih dalam.

Penutup

Menjadi dewasa bukan berarti kebal dari kehampaan. Justru, semakin dewasa, semakin penting untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah aku benar-benar hidup, atau hanya menjalani hidup? Emptiness syndrome bukan musuh, melainkan pengingat bahwa jiwa kita juga butuh dirawat.

Karena hidup yang utuh bukan hanya tentang bertahan dan memenuhi peran, tetapi juga tentang merasa hadir, bermakna, dan terhubung, dengan diri sendiri dan orang lain.

Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing Anda memelihara kesehatan mental Anda serta membantu Anda untuk membangun hidup Anda dengan bermakna, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor  profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda menavigasi tantangan Anda.

Image Source :

Image by jcomp on Freepik

Image by freepik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *