Generasi saat ini, khususnya Gen Z, sering kali disebut sebagai “Gen Strawberry”—istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi yang terlihat kuat di luar, tetapi mudah rapuh ketika menghadapi tekanan. Salah satu fenomena yang sering dikaitkan dengan mereka adalah mood swing yang ekstrem, di mana perasaan mereka bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Namun, apakah mood swing yang dialami oleh Gen Z hanya bagian dari karakter mereka, atau justru bisa menjadi tanda dari gangguan mental seperti bipolar disorder? Mari kita bahas lebih dalam mengenai perbedaan antara mood swing biasa dan tanda-tanda gangguan bipolar, serta bagaimana cara mengatasinya.
1. Apa Itu Mood Swing?
Mood swing adalah perubahan suasana hati yang terjadi secara tiba-tiba, dari senang menjadi sedih, atau dari bersemangat menjadi malas tanpa penyebab yang jelas. Mood swing ini adalah hal yang wajar terjadi pada setiap orang, terutama pada remaja dan anak muda yang masih mengalami banyak perubahan dalam hidup mereka.
Faktor yang bisa menyebabkan mood swing:
- Perubahan hormon → Biasanya terjadi pada remaja, perempuan saat menstruasi, atau akibat stres.
- Kurang tidur → Tidur yang tidak cukup bisa membuat emosi tidak stabil.
- Tekanan sosial dan ekspektasi tinggi → Gen Z sering kali menghadapi tekanan besar dari media sosial dan lingkungan mereka.
- Konsumsi kafein dan gula berlebihan → Makanan dan minuman tertentu dapat mempengaruhi keseimbangan emosi.
Meskipun mood swing adalah hal yang normal, jika terjadi terlalu sering dan ekstrem, bisa jadi ada masalah yang lebih serius.
2. Bipolar Disorder: Lebih dari Sekadar Mood Swing
Banyak orang mengira bipolar disorder hanya berarti perubahan suasana hati yang cepat, tetapi sebenarnya gangguan ini jauh lebih kompleks. Bipolar disorder adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan mood yang ekstrem antara dua fase utama: mania dan depresi.
Gejala utama bipolar disorder:
Fase Mania (Naik Secara Ekstrim)
- Merasa sangat bahagia atau euforia tanpa alasan jelas.
- Memiliki energi berlebihan, bahkan tidak butuh tidur.
- Berbicara sangat cepat dan merasa punya banyak ide cemerlang.
- Bertindak impulsif tanpa berpikir panjang, misalnya boros belanja atau mengambil risiko tinggi.
Fase Depresi (Turun Secara Ekstrem)
- Merasa sangat sedih, putus asa, atau tidak berharga.
- Tidak memiliki energi, bahkan malas bangun dari tempat tidur.
- Sulit berkonsentrasi dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai.
- Mungkin muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
Perbedaan utama antara mood swing biasa dan bipolar disorder adalah intensitas dan durasinya. Mood swing biasa terjadi dalam hitungan jam atau hari, sedangkan pada bipolar, perubahan fase bisa berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan bulan.
3. Gen Strawberry: Rentan atau Hanya Butuh Pemahaman?
Gen Z sering disebut sebagai Gen Strawberry karena mereka dianggap terlalu sensitif dan mudah merasa stres. Padahal, bukan berarti mereka lemah, mereka hanya menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Faktor yang membuat Gen Z lebih rentan terhadap perubahan mood:
Tekanan media sosial → Ekspektasi tinggi untuk selalu tampil sempurna.
Tuntutan akademik dan karier → Harus sukses di usia muda.
Kurangnya support system yang sehat → Banyak Gen Z merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.
Karena alasan ini, banyak Gen Z mengalami perubahan emosi yang cepat, tetapi bukan berarti mereka semua memiliki gangguan bipolar. Yang penting adalah memahami kapan mood swing masih normal, dan kapan sudah menjadi tanda gangguan mental yang serius.

4. Cara Mengatasi Mood Swing dan Menjaga Kesehatan Mental
Jika Anda atau seseorang di sekitar Anda sering mengalami mood swing, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola emosi dengan lebih baik:
1. Kenali dan Catat Perubahan Mood
Buat jurnal emosi untuk melihat pola perubahan suasana hati. Jika mood swing terjadi terlalu sering atau terlalu ekstrem, mungkin ada hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
2. Jaga Pola Tidur yang Sehat
Kurang tidur bisa memperburuk mood swing. Pastikan tidur cukup (7-9 jam per malam) dan memiliki rutinitas tidur yang konsisten.
3. Hindari Kafein dan Gula Berlebihan
Makanan dan minuman manis atau berkafein tinggi bisa memicu lonjakan energi dan kemudian menyebabkan “crash” yang memperburuk mood swing.
4. Olahraga dan Meditasi
Olahraga membantu melepaskan hormon endorfin yang meningkatkan suasana hati. Sementara itu, meditasi dan teknik pernapasan bisa membantu menenangkan pikiran.
5. Kurangi Eksposur ke Media Sosial
Jika media sosial membuat Anda merasa cemas atau stres, coba batasi penggunaannya dan lebih fokus pada hubungan sosial yang nyata.
6. Jangan Takut Cari Bantuan Profesional
Jika mood swing terasa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari atau muncul tanda-tanda bipolar, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Kesimpulan: Waspada, Tapi Jangan Langsung Mendiagnosis Diri Sendiri
Gen Z memang sering mengalami mood swing, tetapi tidak semua perubahan suasana hati berarti bipolar disorder. Penting untuk memahami perbedaan antara mood swing biasa dan gangguan mental yang lebih serius.
Sebagai generasi yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental, Gen Z perlu memahami bahwa merawat kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan ragu untuk mencari bantuan jika merasa kesulitan mengelola emosi.
Jadi, apakah Gen Strawberry benar-benar lemah? Tidak! Mereka hanya butuh lebih banyak pemahaman, dukungan, dan cara yang lebih baik untuk mengelola emosi mereka. Karena kesehatan mental bukan lelucon, tetapi sesuatu yang harus dirawat dengan serius.
Jika Anda merasa membutuhkan dukungan untuk menavigasi keadaan emosional dan meningkatkan kesejahteraan mental Anda, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan sesi konseling dan kerahasiaan yang terjamin.
Image Source :