Liburan seharusnya menjadi waktu yang menyenangkan. Namun ironisnya, banyak orang justru merasa stres saat liburan. Alih-alih menikmati momen bersama keluarga atau merayakan hari besar dengan penuh sukacita, tekanan untuk memenuhi ekspektasi, mengatur waktu, bahkan soal keuangan, sering kali membuat liburan terasa melelahkan.
Holiday stress atau stres selama masa liburan adalah hal nyata yang dialami oleh banyak orang, termasuk anak-anak dan remaja. Tekanan sosial, keharusan untuk tampil “bahagia”, atau rutinitas yang berubah drastis, bisa membuat tubuh dan pikiran menjadi rentan. Nah, bagaimana cara mengatasinya?
1. Jangan Terjebak Ekspektasi Sempurna
Banyak dari kita memiliki ekspektasi tinggi terhadap liburan dan ingin semua berjalan mulus, anak-anak bahagia, rumah bersih, makanan enak, dan suasana hangat penuh tawa. Namun, realita seringkali berbeda. Anak bisa tantrum, masakan gosong, atau destinasi liburan tak sesuai harapan.
Belajar menerima bahwa liburan tidak harus sempurna justru bisa mengurangi beban mental. Fokuslah pada pengalaman dan kebersamaan, bukan pada pencitraan.
2. Rencanakan Tapi Jangan Kaku
Merencanakan kegiatan selama liburan itu penting, namun jangan buat jadwal yang terlalu padat. Justru hal ini bisa membuat semua orang stres. Sisakan waktu kosong untuk istirahat atau spontanitas. Misalnya, kalau kamu sekeluarga pergi ke luar kota, jangan paksakan harus mengunjungi 5 tempat dalam sehari. Pilih 1–2 tempat dan nikmati dengan santai.
3. Libatkan Semua Anggota Keluarga
Stres saat liburan juga bisa muncul saat semua beban hanya ditanggung oleh satu orang, biasanya ibu atau ayah. Libatkan semua anggota keluarga dalam persiapan liburan: anak-anak bisa membantu membungkus kado, menyiapkan peralatan piknik, atau bahkan ikut menentukan rencana kegiatan. Liburan bukan tugas satu orang, itu adalah tanggung jawab dan kesenangan bersama.
4. Cerdas Mengatur Anggaran
Masalah keuangan adalah salah satu penyebab utama holiday stress. Jangan memaksakan liburan mewah atau hadiah mahal demi pencitraan atau FOMO. Buatlah anggaran realistis dan pegang teguh batasan tersebut. Ingat, kebahagiaan sejati tidak datang dari harga tiket pesawat atau jumlah hadiah, tapi dari momen kebersamaan yang berkualitas.

5. Waktu untuk Diri Sendiri Juga Penting
Meskipun liburan identik dengan kebersamaan, jangan lupakan kebutuhan untuk ‘me time’. Apalagi bagi orang tua, mengasuh anak saat liburan bisa menguras tenaga. Sisihkan waktu sejenak untuk diri sendiri, meski hanya 15–30 menit sehari untuk membaca, olahraga ringan, atau sekadar duduk menikmati kopi tanpa distraksi.
6. Fokus pada Hal yang Bermakna
Sering kali kita terjebak dalam aktivitas seremonial liburan: dekorasi, pesta, baju baru, dan hadiah. Padahal, esensi dari liburan adalah mempererat hubungan, bersyukur, dan introspeksi. Luangkan waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, mengobrol dari hati ke hati, atau melakukan kegiatan bermakna seperti kunjungan sosial dan donasi bersama anak-anak.
7. Ajak Anak Mengenali Emosinya
Anak-anak pun bisa mengalami holiday stress, meski mereka tidak selalu bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Tiba-tiba rewel, susah tidur, atau tantrum bisa jadi sinyal bahwa mereka kelelahan atau kewalahan. Ajak anak bicara tentang perasaannya dan ajarkan bahwa tidak apa-apa merasa capek atau bosan. Liburan juga bisa jadi waktu yang baik untuk membangun emotional intelligence anak.
8. Kembali ke Rutinitas Secara Bertahap
Menjelang akhir liburan, beri waktu bagi diri dan keluarga untuk kembali ke rutinitas. Jangan mendadak langsung “full speed” di hari pertama masuk sekolah atau kerja. Atur waktu tidur kembali normal beberapa hari sebelum liburan berakhir, siapkan keperluan sekolah/kerja secara bertahap agar transisi terasa mulus.
Kesimpulan
Liburan tak harus mewah atau sempurna. Dengan mengelola ekspektasi, menjaga keseimbangan aktivitas, dan memprioritaskan hal-hal yang bermakna, kita bisa melewati masa liburan dengan hati tenang dan pikiran segar. Liburan yang baik bukan soal banyaknya tempat yang dikunjungi atau hadiah yang dibeli, tapi soal ketenangan, kebersamaan, dan kenangan yang abadi.
Kalau kamu sendiri, liburan seperti apa yang paling berkesan dan minim stres?
Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing Anda memelihara kesehatan mental Anda, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda menavigasi tantangan Anda.
Image Source :