Self-harm atau melukai diri sendiri sering kali dianggap sebagai tindakan ekstrem yang hanya dilakukan oleh orang dengan gangguan mental serius. Namun, faktanya, banyak anak dan remaja yang diam-diam melakukan self-harm sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional. Bagi sebagian dari mereka, self-harm bukan untuk mencari perhatian, melainkan karena mereka merasa itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan ketenangan dari rasa sakit yang mereka alami.
Sebagai orang tua atau pendidik, sangat penting untuk memahami tanda-tanda anak yang melakukan self-harm serta bagaimana cara membantu mereka. Artikel ini akan membahas apa itu self-harm, tanda-tanda yang harus diwaspadai, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak menghadapi masalah ini dengan cara yang lebih sehat.
Apa Itu Self-Harm?
Self-harm atau menyakiti diri sendiri adalah tindakan di mana seseorang dengan sengaja melukai tubuhnya sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional, perasaan tertekan, atau rasa sakit psikologis. Beberapa bentuk self-harm yang umum di kalangan anak dan remaja meliputi:
- Menggores atau menyayat kulit dengan benda tajam seperti silet atau pisau.
- Memukul diri sendiri atau membenturkan kepala ke dinding.
- Membakar kulit dengan rokok atau benda panas.
- Mencabut rambut secara berlebihan (trikotilomania).
- Melukai diri dengan cara lain seperti menggigit diri sendiri atau sengaja menyebabkan luka.
Self-harm sering kali dilakukan secara diam-diam dan disembunyikan dari orang lain. Anak yang melakukannya mungkin tidak berniat untuk bunuh diri, tetapi mereka menggunakan cara ini sebagai mekanisme untuk mengatasi stres atau rasa sakit emosional.
Kenapa Anak Bisa Melakukan Self-Harm?
Ada berbagai alasan mengapa seorang anak atau remaja memilih self-harm sebagai cara untuk mengatasi emosinya, antara lain:
1. Mengatasi Perasaan yang Sulit
Banyak anak yang tidak tahu bagaimana mengungkapkan emosi mereka. Ketika mereka merasa stres, sedih, atau marah, mereka tidak bisa menyalurkannya dengan kata-kata dan memilih untuk melukai diri sebagai pelepasan emosi.
2. Mencari Rasa Kontrol
Beberapa anak merasa bahwa hidup mereka di luar kendali, baik karena masalah keluarga, tekanan sekolah, atau konflik dengan teman sebaya. Dengan menyakiti diri sendiri, mereka merasa memiliki kontrol atas sesuatu dalam hidup mereka.
3. Mengalihkan Rasa Sakit Emosional
Bagi sebagian anak, luka fisik terasa lebih “nyata” dan lebih mudah ditangani dibandingkan rasa sakit emosional. Mereka merasa bahwa luka yang terlihat lebih bisa diterima dibandingkan perasaan tidak terlihat yang mereka alami di dalam diri.
4. Pengaruh Lingkungan dan Media Sosial
Fenomena self-harm juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, termasuk teman sebaya atau media sosial. Beberapa komunitas online bahkan mengglorifikasi self-harm sebagai bentuk “ekspresi diri,” yang bisa mempengaruhi anak-anak untuk mencobanya.

Tanda-Tanda Anak Melakukan Self-Harm
Karena self-harm sering dilakukan secara diam-diam, anak yang melakukannya cenderung menyembunyikan luka mereka. Berikut beberapa tanda yang bisa diwaspadai:
1. Luka yang Tidak Jelas Penyebabnya
Jika anak sering memiliki goresan, bekas luka, atau memar di bagian tubuh tertentu (seperti lengan, paha, atau pergelangan tangan) dan mereka selalu memberikan alasan yang tidak masuk akal (misalnya, “kecelakaan kecil” atau “tergores sesuatu”), ini bisa menjadi tanda bahwa mereka melakukan self-harm.
2. Sering Memakai Pakaian Panjang
Anak yang melakukan self-harm biasanya menutup luka mereka dengan memakai baju lengan panjang atau celana panjang, bahkan saat cuaca panas.
3. Perubahan Perilaku yang Drastis
- Menarik diri dari lingkungan sosial atau teman-teman.
- Menjadi lebih pendiam, murung, atau sering terlihat cemas.
- Mudah marah atau tersinggung tanpa alasan yang jelas.
4. Koleksi Benda-Benda Tajam
Jika anak mulai mengumpulkan silet, pisau kecil, atau benda tajam lainnya tanpa alasan yang jelas, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang melakukan self-harm.
5. Menghindari Sentuhan Fisik
Anak yang melakukan self-harm sering merasa tidak nyaman jika disentuh di area tubuh yang memiliki luka, seperti saat dipeluk atau saat lengan mereka tersentuh secara tidak sengaja.
Bagaimana Cara Membantu Anak yang Melakukan Self-Harm?
Jika Anda mencurigai anak mengalami self-harm, jangan langsung bereaksi dengan marah atau menghakimi. Sebaliknya, cobalah untuk mendekati mereka dengan penuh pengertian.
1. Jangan Langsung Memarahi atau Menghakimi
Ketika anak akhirnya mengaku bahwa mereka melakukan self-harm, hal pertama yang mereka butuhkan adalah pemahaman, bukan hukuman. Hindari mengatakan:
“Kamu kenapa sih melakukan hal bodoh seperti ini?”
“Kamu cari perhatian, ya?”
Sebaliknya, gunakan pendekatan yang lebih lembut:
“Mama/Papa ada di sini buat kamu. Kamu bisa cerita apa saja tanpa takut dihakimi.”
“Aku tahu kamu lagi merasa nggak baik-baik saja. Boleh cerita apa yang sedang kamu rasakan?”
2. Ajak Bicara dengan Tenang
Jangan paksa anak untuk langsung membuka diri. Bangun kepercayaan dengan mendengarkan tanpa menyela. Kadang, anak butuh waktu sebelum merasa nyaman untuk berbicara.
3. Cari Alternatif yang Lebih Sehat untuk Mengatasi Stres
Bantu anak menemukan cara lain untuk menyalurkan emosinya dengan lebih sehat, seperti:
- Menulis jurnal tentang perasaan mereka.
- Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik.
- Bermain musik atau melukis sebagai bentuk ekspresi diri.
4. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Jika self-harm sudah menjadi kebiasaan dan anak kesulitan berhenti, segera cari bantuan dari psikolog atau konselor profesional. Terapi bisa membantu anak memahami akar masalah mereka dan menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi emosi mereka.
Kesimpulan
Self-harm bukan sekadar masalah “anak nakal” atau “cari perhatian.” Ini adalah tanda bahwa seorang anak sedang berjuang menghadapi perasaan yang mereka tidak tahu cara menyalurkannya. Sebagai orang tua dan pendidik, kita harus waspada terhadap tanda-tandanya dan memberikan dukungan yang tepat.
Jangan biarkan anak menghadapi semuanya sendirian. Dengarkan mereka, pahami mereka, dan bantu mereka menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan hidup. Kejujuran dan komunikasi yang baik bisa menjadi langkah pertama untuk membantu mereka keluar dari kebiasaan ini. Jadilah tempat yang aman bagi anak untuk berbicara tanpa takut dihakimi.
Jika Anda merasa anak atau seseorang yang Anda kenal mengalami self-harm, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dengan seorang psikolog atau konselor . Karena setiap anak berhak mendapatkan kehidupan yang lebih sehat, lebih bahagia, dan bebas dari rasa sakit yang mereka ciptakan sendiri. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dan anak Anda dengan sesi konseling dan kerahasiaan yang terjamin.
Image Source :