Dalam perjalanan menjadi orang tua, kita sering merasa perlu menjadi sosok yang selalu kuat, selalu sabar, dan tidak pernah lelah. Namun, realita berkata lain. Ada hari-hari ketika tubuh terasa berat, kepala penuh, dan emosi menumpuk. Di momen-momen seperti ini, satu hal yang perlu diingat: nggak apa-apa kok bilang ke anak kalau kita sedang capek.
Banyak orang tua takut mengungkapkan rasa lelahnya pada anak karena khawatir dianggap lemah, merasa bersalah, atau takut membuat anak tidak nyaman. Padahal, justru dengan menunjukkan sisi manusiawi kita, anak-anak bisa belajar banyak hal penting dalam kehidupan, terutama soal emosi, empati, dan komunikasi yang sehat.
Kenapa Orang Tua Perlu Jujur Soal Emosi?
Kita hidup di zaman yang menuntut banyak peran dari orang tua: harus mendidik, mengasuh, bekerja, bahkan kadang jadi guru dan terapis sekaligus. Dalam tekanan seperti ini, memvalidasi diri sendiri bahwa “saya sedang lelah” adalah bentuk kepedulian pada kesehatan mental.
Ketika orang tua pura-pura selalu kuat, anak belajar bahwa emosi seperti lelah, sedih, atau marah adalah sesuatu yang tabu. Sebaliknya, ketika kita berani bilang:
“Mama lagi capek banget hari ini, ya. Boleh ya, kita peluk aja dulu, terus ngobrolnya nanti?”
Anak belajar bahwa perasaan itu wajar, dan justru perlu dikomunikasikan.
Anak Juga Butuh Belajar Emosi Lewat Contoh
Anak-anak tidak secara otomatis bisa mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya. Mereka belajar dari contoh. Saat melihat orang tua mampu berkata jujur tanpa meledak-ledak, mereka belajar:
- Mengenali emosi sendiri
- Menyampaikan kebutuhan dengan tenang
- Menunda keinginan saat orang lain butuh ruang
- Menumbuhkan empati
Bukan tidak mungkin, anak akan mulai bertanya dengan lembut, “Mama capek ya? Mau aku ambilin minum?” , momen ini jadi awal tumbuhnya kepedulian dan hubungan yang lebih dekat.
Tapi Batasannya Apa?
Tentu penting untuk tetap menjaga keseimbangan. Mengatakan bahwa kita sedang capek bukan berarti membebani anak dengan masalah orang dewasa atau melempar tanggung jawab emosional ke mereka. Yang kita lakukan adalah memberi tahu, bukan memindahkan beban.
Contoh sehat:
✅ “Papa lagi pusing karena kerjaan, jadi Papa butuh waktu sebentar untuk tenang ya.”
Bukan:
❌ “Gara-gara kalian berisik, Papa jadi makin stress!”
Bedanya sangat besar. Yang pertama mengajarkan kesadaran diri dan komunikasi. Yang kedua memicu rasa bersalah dan beban emosional yang tidak seharusnya ada di pundak anak.

Libatkan Anak Dalam Solusi Kecil
Setelah jujur menyampaikan kondisi kita, libatkan anak dalam hal-hal kecil. Misalnya:
- Ajak mereka duduk diam bareng, mungkin sambil mendengarkan lagu tenang.
- Minta bantuan sederhana seperti mengambilkan air minum atau merapikan mainan.
Tujuannya bukan memanfaatkan mereka, tapi memberi rasa bahwa mereka bisa berkontribusi dalam suasana keluarga. Anak jadi merasa dihargai dan memiliki peran.
Manfaat Jangka Panjangnya Besar
Kebiasaan saling terbuka dalam keluarga akan membentuk anak-anak yang lebih sehat secara emosional. Mereka akan tumbuh dengan:
- Kemampuan memahami perasaan sendiri dan orang lain
- Keterampilan komunikasi yang empatik
- Ketahanan mental karena tahu bahwa tidak apa-apa merasa “tidak baik-baik saja”
Lebih dari itu, anak-anak jadi tidak asing dengan dinamika emosi. Mereka tidak tumbuh dalam tekanan “harus selalu bahagia,” tapi mengerti bahwa hidup itu penuh warna, dan semuanya valid.
Penutup: Jadilah Orang Tua yang Manusiawi
Menjadi orang tua bukan berarti menjadi sempurna. Justru dengan menunjukkan sisi rapuh kita dalam bentuk yang sehat dan terarah, anak belajar bahwa menjadi manusia adalah tentang memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan bijak.
Jadi, saat badan remuk karena kerjaan, kepala penuh urusan rumah, atau emosi mulai menumpuk… tarik napas, dan jangan ragu bilang: “Mama/papa capek, ya. Kita istirahat dulu, yuk.”
Itu bukan kelemahan. Itu adalah kekuatan dan pelajaran kehidupan terbaik yang bisa kita berikan.
Jika Anda membutuhkan arahan untuk membimbing Anda memelihara kesehatan mental Anda, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang psikolog atau konselor profesional untuk mendapatkan dukungan dan panduan lebih lanjut. Seorang konselor yang berpengalaman dapat membantu Anda dengan kerahasiaan yang terjamin. SOA juga memiliki pelayanan Individual Counseling serta Family Counseling untuk mendukung Anda menavigasi tantangan Anda.
Image Source :