Tantangan bagi seorang dengan dengan disleksia bervariasi dari orang ke orang. Apabila Anda seorang guru dan memiliki murid dengan disleksia di antara murid-murid Anda, tantangan Anda adalah bagaimana membuat lingkungan belajar inklusif dan mendukung semua anak didik Anda. Yang dimaksud dengan inklusi adalah, ‘Rasa memiliki: merasa dihormati, dihargai apa adanya; merasakan tingkat energi yang mendukung dan komitmen dari orang lain sehingga Anda dapat melakukan pekerjaan terbaik Anda’.
Berikut adalah 10 cara untuk mengembangkan lingkungan belajar yang inklusif untuk seluruh murid Anda, termasuk untuk mereka yang memiliki tantangan belajar seperti disleksia. Ide-ide ini termasuk merencanakan pelajaran inklusif, dan melaksanakan penilaian serta memperhatikan respon murid-murid Anda. Mari mencari tahu lebih lanjut bagaimana membantu seorang pelajar dengan disleksia agar mereka lebih percaya diri di kelas. Selain untuk para guru dan pengajar, artikel ini juga dapat berguna bagi para orang tua dengan anak disleksia.
Berbagai Tips untuk Mengajar Anak dengan Disleksia
- Ciptakan budaya kelas yang suportif dan kolaboratif.
Ciptakan budaya kelas yang suportif dan kolaboratif dengan mengenal semua peserta didik Anda sebagai individu dan mendorong mereka untuk saling mengenal. Ini akan membantu pelajar merasa nyaman memikirkan cara untuk melakukan tugas dan meminta dukungan.
- Gunakan input dan aktivitas multi indra.
Gunakan input dan aktivitas multisensori untuk memberi peserta didik lebih dari satu cara untuk membuat hubungan dan mempelajari konsep. Misalnya menggunakan flash card, boneka, video cerita dan benda-benda nyata di dalam kelas. Ketika pelajar menggunakan lebih dari satu indera pada satu waktu, otak mereka dirangsang dengan berbagai cara. Aktivitas multisensori mungkin melibatkan kombinasi membaca, mendengarkan, melihat, menyentuh suatu objek, bergerak secara fisik di sekitar ruang, atau menggunakan gerakan.
- Tawarkan pilihan pada peserta didik.
Tawarkan pilihan kepada para peserta didik dalam bagaimana mereka terlibat dengan tugas-tugas untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan inklusif. Misalnya, pelajar mungkin akan lebih senang ‘menggambar’ daripada menulis catatan selama tugas mendengarkan atau saat mempersiapkan tugas pidato.
- Sediakan kartu berbentuk L.
Sediakan kartu berbentuk L bagi pelajar untuk membingkai bagian halaman buku teks dan membantu memusatkan perhatian mereka. Himbau pelajar untuk menggunakan selembar kertas biasa untuk menutupi teks bacaan dan mengungkapkan satu baris setiap kali mereka membaca. Ini adalah teknik yang berguna untuk semua pelajar saat Anda mengajarkan keterampilan membaca.
- Hadirkan bahasa baru dalam potongan kecil dan mudah diatur.
Sajikan bahasa baru dalam potongan kecil dan mudah dikelola sehingga Anda tidak membebani pelajar. Fokus pada bahasa kunci dari daftar kata ujian dan spesifikasi bahasa di buku pegangan guru.

- Luangkan waktu untuk mengajarkan strategi ujian secara eksplisit.
Luangkan waktu untuk mengajarkan strategi ujian secara eksplisit, seperti cara terbaik untuk melakukan bagian tertentu dalam ujian, dan uraikan menjadi serangkaian langkah sederhana.
- Gunakan pertanyaan pengecekan konsep (Concept Checking Questions / CCQ).
Gunakan pertanyaan pengecekan konsep (CCQ) untuk memeriksa pemahaman pelajar tentang kata atau sebuah tata bahasa baru. CCQ lebih baik daripada hanya bertanya ‘Apakah Anda mengerti?’. Contoh CCQ untuk kata sifat cepat mungkin: ‘Hal apa yang Anda tahu yang cepat?’, ‘Apa kebalikan dari cepat?’ atau ‘Apakah siput cepat?’. Anda juga dapat menggunakan gambar objek atau gerakan untuk memeriksa pemahaman siswa Anda.
- Tawarkan banyak kesempatan bagi pelajar untuk merangkum dan mengulas bahasa.
Tawarkan banyak kesempatan bagi pelajar untuk merangkum dan meninjau bahasa, terutama dari daftar kata yang akan diuji. Gunakan berbagai teknik untuk membantu pelajar menghafal kata-kata baru, termasuk menggambar, musik atau ritme, gerakan, tarian, dan teknik visualisasi.
- Cobalah pendekatan yang berbeda untuk menentukan cara memberi input yang terbaik.
Bicaralah dengan siswa Anda tentang bagaimana cara memberikan input yang paling cocok untuk mereka. Ingatlah bahwa mendengarkan suara guru dapat terasa lebih pribadi dan mendukung daripada menerima input tertulis dengan pena merah. Jadi Anda dapat mempertimbangkan membuat video pendek atau rekaman suara dengan komentar Anda.
- Ingatlah bahwa penilaian harus bersifat berkelanjutan.
Ingatlah bahwa penilaian harus bersifat berkelanjutan dan bukan akhir dari proses pembelajaran. Jika Anda memberikan sesuatu kembali kepada pelajar untuk dikoreksi, pastikan Anda memeriksa revisi berikutnya dan kemudian memberi mereka umpan balik tentang ini juga. Tantangan yang dialami oleh pelajar dengan disleksia sering menyebabkan tingkat kepercayaan diri yang rendah pada pelajar tersebut, jadi ingatlah untuk memasukkan umpan balik positif untuk mendorong pelajar dan membangun harga diri. Ini tentu saja berlaku untuk semua pelajar Anda!
Apabila Anda adalah seorang guru atau orang tua yang membutuhkan bantuan untuk mengidentifikasi gangguan disleksia pada siswa atau anak Anda. Atau apabila Anda membutuhkan bimbingan lebih lanjut untuk membantu seorang anak dengan gangguan disleksia agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik, janganlah ragu untuk menghubungi seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman untuk membantu Anda dan anggota keluarga Anda dengan kerahasiaan yang terjamin.
Image Source :
Image by pressfoto on Freepik
Image by Freepik